pagi minggu 26 desember 2004,
engkau datang tanpa kami duga
engkau muncul dari tiap sudut kota
menyapa tiap apa yang engkau jumpa
tanpa mendengar alasan untuk bisa ditunda
hari itu hanya menjadi milikmu wahai tsunami
engkau hanya menyapa 15 menit penduduk negeri kami
serambi mekkah yang megah kau porak-porandakan
tanpa seizin penguasa bangsa
engkau hanya tunduk pada perintah sang Kuasa
engkau hempaskan kekuatanmu yang begitu dahsyatnya
menerjang segala penghalang yang tak berdosa
menyapu setiap dosa penduduk negeri ini
ribuan manusia menjadi syuhada dihari itu
ratusan anak kehilangan orang tuanya
penduduk negeri yang kehilangan tanah kelahirannya
hanya air mata yang tersisa yang terus mengalir
meratapi asa dan harapan yang sirna
seakan matahari tak terbit lagi esoknya
kau sisakan duka yang begitu dalam
engkau rela pisahkan anak dari ibunya
engkau rela robohkan bangunan megah ditengah kota
engkau rela padamkan lampu sebagai penerang
engkau rela hancurkan cita-cita sebagian manusia yang telah mereka genggam
dan engkau lumpuhkan segala kekuatan yang ada
kini engkau telah berlalu
kini manusia mulai menata hidup baru
merangkak untuk bisa berdiri dan terus untuk berlari
negeri ini mulai bangkit menatap matahari yang terbit kembali
menyongsong setiap detik makna kehangatan matahari pagi
dalam satu genggaman tangan
serta ayunan langkah yang terus bersinergi dalam membangun sang negeri
menata kembali setiap puing-puing sang tsunami
mengambil pelajaran dan hikmah darinya
dan terus belajar ke arah yang lebih baik
demi sang negeri yang pernah diporak-porandakan
kini bangkit dan berdiri tegak kembali
demi sang aceh tercinta
negeri sulthan iskandar muda.
Lamnga,
26 desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar